semua untuk anda

Fisiologi Spirometri

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Sering kali kita melihat orang yang memilki kecepatan pernapasan dan kedalaman pernapaan berbeda dari orang yang normal atau yang paling sering kita temukan adalah penyakit asma. Penyakit-penyakit ini merupakan penyakit yang disebabkan gangguan ventilasi sehingga bagian dari paru-paru akan melakukan adaptasi seperti penyempitan jalan napas dan inflamasi yang mengakibatkan seseorang menjadi sesak napas atau batuk. Penyakit-penyakit seperti ini dapat dideteksi melalui suatu tes (Peak Flow Rate) dengan menggunakan alat yang sederhana, yaitu Peak Flow Meter. Peak Flow Meter (PFM) adalah alat untuk mengukur jumlah aliran udara dalam jalan napas (PFR). Nilai PFR dapat dipengaruhi beberapa faktor misalnya posisi tubuh, usia, kekuatan otot pernapasan, tinggi badan dan jenis kelamin. Olehnya itu, sebagai seorang yang berkecimpung di dunia kesehatan seharusnya kita mengetahui cara-cara pemeriksaan dengan alat ini yang bertujuan untuk menegtahui ada tidaknya masalah pada sistem pernapasan seseorang yang akan dipelajari dalam
praktikum ini.

B. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan dari percobaan ini adalah menentukan Peak Flow Rate/Maximal Flow Rate.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Jalan pernapasan yang menghantarkan udara ke paru-paru adalah hidung, faring, laring, trakea, bronkus dan bronkhiolus. Saluran pernapasan dari hidung sampai bronkhiolus dilapisi oleh membran mukosa bersilia. Ketika udara masuk melalui rongga hidung, maka udara disaring, dihangatkan dan dilembabkan (www.portakalbe.co.id, 2000).

A. Rongga Hidung (Cavum Nasalis)
Udara dari luar akan masuk lewat rongga hidung (cavum nasalis). Rongga hidung berlapis selaput lendir, di dalamnya terdapat kelenjar minyak (kelenjar sebasea) dan kelenjar keringat (kelenjar sudorifera). Selaput lendir berfungsi menangkap benda asing yang masuk lewat saluran pernapasan. Selain itu, terdapat juga rambut pendek dan tebal yang berfungsi menyaring partikel kotoran yang masuk bersama udara. Juga terdapat konka yang mempunyai banyak kapiler darah yang berfungsi menghangatkan udara yang masuk (http://ilmupedia.com, 2008).

B. Faring Tenggerokan

Udara dari rongga hidung masuk ke faring. Faring merupakan percabangan 2 saluran, yaitu saluran pernapasan (nasofarings) pada bagian depan dan saluran pencernaan (orofarings) pada bagian belakang. Pada bagian belakang faring (posterior) terdapat laring (tekak) tempat terletaknya pita suara (pita vocalis). Masuknya udara melalui faring akan menyebabkan pita suara bergetar dan terdengar sebagai suara. Makan sambil berbicara dapat mengakibatkan makanan masuk ke saluran pernapasan karena saluran pernapasan pada saat tersebut sedang terbuka. Walaupun demikian, saraf kita akan mengatur agar peristiwa menelan, bernapas, dan berbicara tidak terjadi bersamaan sehingga mengakibatkan gangguan kesehatan (http://ilmupedia.com, 2008).
C. Tenggorokan (Trakea)

Tenggorokan berupa pipa yang panjangnya ± 10 cm, terletak sebagian di leher dan sebagian di rongga dada (torak). Dinding tenggorokan tipis dan kaku, dikelilingi oleh cincin tulang rawan, dan pada bagian dalam rongga bersilia. Silia-silia ini berfungsi menyaring benda-benda asing yang masuk ke saluran pernapasan (http://ilmupedia.com, 2008).

D. Cabang-Cabang Tenggerokan (Bronki)

Tenggorokan (trakea) bercabang menjadi dua bagian, yaitu bronkus kanan dan bronkus kiri. Struktur lapisan mukosa bronkus sama dengan trakea, hanya tulang rawan bronkus bentuknya tidak teratur dan pada bagian bronkus yang lebih besar cincin tulang rawannya melingkari lumen dengan sempurna. Bronkus bercabang-cabang lagi menjadi bronkiolus (http://ilmupedia.com, 2008).

E. Paru-paru (Pulmo)
Paru-paru terletak di dalam rongga dada bagian atas, di bagian samping dibatasi oleh otot dan rusuk dan di bagian bawah dibatasi oleh diafragma yang berotot kuat. Paru-paru ada dua bagian yaitu paru-paru kanan (pulmo dekster) yang terdiri atas 3 lobus dan paru-paru kiri (pulmo sinister) yang terdiri atas 2 lobus. Paru-paru dibungkus oleh dua selaput yang tipis, disebut pleura. Selaput bagian dalam yang langsung menyelaputi paru-paru disebut pleura dalam (pleura visceralis) dan selaput yang menyelaputi rongga dada yang bersebelahan dengan tulang rusuk disebut pleura luar (pleura parietalis). Antara selaput luar dan selaput dalam terdapat rongga berisi cairan pleura yang berfungsi sebagai pelumas paru-paru. Cairan pleura berasal dari plasma darah yang masuk secara eksudasi. Dinding rongga pleura bersifat permeabel terhadap air dan zat-zat lain. Paru-paru tersusun oleh bronkiolus, alveolus, jaringan elastik, dan pembuluh darah. Paru-paru berstruktur seperti spon yang elastis dengan daerah permukaan dalam yang sangat lebar untuk pertukaran gas. Di dalam paru-paru, bronkiolus bercabang-cabang halus dengan diameter ± 1 mm, dindingnya makin menipis jika dibanding dengan bronkus. Bronkiolus tidak mempunyi tulang rawan, tetapi rongganya masih mempunyai silia dan di bagian ujung mempunyai epitelium berbentuk kubus bersilia. Pada bagian distal kemungkinan tidak bersilia. Bronkiolus berakhir pada gugus kantung udara (alveolus). Alveolus terdapat pada ujung akhir bronkiolus berupa kantong kecil yang salah satu sisinya terbuka sehingga menyerupai busa atau mirip sarang tawon. Oleh karena alveolus berselaput tipis dan di situ banyak bermuara kapiler darah maka memungkinkan terjadinya difusi gas pernapasan (http://ilmupedia.com,2008).
Parameter yang sering diukur dalam uji faal paru ialah isi paru dengan beberapa bagiannya. Volume paru ini menggambarkan fungsi statik paru. Ada dua golongan volume paru, yaitu yang biasa disebut voume paru dan kapasitas (www.portakalbe.co.id, 2000).

1. Volume Paru

Ada empat jenis volume paru yang masing-masing berdiri sendiri-sendiri, tidak saling tercampur, yaitu :
1. volume tidal, yaitu volume udara yang dihirup atau yang dihembuskan pada satu siklus pernapasan selama pernapasan biasa (http://advertising.microsoft.com, 2008).
2. Cadangan inspirasi, yaitu jumlah maksimal udara yang masih dapat dihisap sesudah akhir inspirasi tenang (www.portakalbe.co.id, 2000)
3. Cadangan ekspirasi, yaitu jumlah maksimal udara yang masih dapat dihembuskan sesudah akhir ekspirasi tenang. Pada pernafasan tenang, ekspirasi terjadi secara pasif, tidak ada otot ekspirasi yang bekerja. Ekspirasi hanya terjadi oleh daya lenting dinding dada dan jaringan paru semata-mata. Posisi rongga dada dan paru pada akhir ekspirasi ini merupakan posisi istirahat. Bila dari posisi istirahat ini dilakukan gerak ekspirasi sekuat-kuatnya sampai maksimal, udara cadangan ekspirasi itulah yang keluar (www.portakalbe.co.id,2000).
4. Isi residu, yaitu jumlah udara yang masih ada di dalam parusesudah melakukan ekspirasi maksimal (www.portakalbe.co.id, 2000).
2.Kapasitasparu
Nilai kapasitas ini mencakup dua atau lebih nilai isi paru pada
butir(1)diatas.
5. Kapasitas parutotal(KPT), yaitu jumlah maksimal udara yang dapat dimuat paru pada akhir inspirasi maksimal (www.portakalbe.co.id, 2000).
6. Kapasitas vital (KV),volume yang mengubah paru-paru diantara inspirasi maksimal dan ekspirasi maksimal (www.spirxpert.com, 2008)
Ini juga bisa diartikan menjadi volume maksimum dari udara yang setiap orang hirup setelah ekspirasi maksimum. Capasitas vital setiap orang bisa diukur melalui spirometer. Jika dikombinasikan dengan ukuran fisiologi, kapasitas vital bisa membantu untuk mendiagnosis adanya penyakit pada paru-paru (www.en.wikipedia.com, 2008).
7. Kapasitas Inspirasi, yaitu jumlah maksimal udara yangdapat dihisap dari posisi istirahat (akhir ekspirasi tenang) (www.portakalbe.co.id, 2000).
8. Kapasitas residu fungsional (KRF), yaitu jumlah udara yang masih tertinggal dalam paru pada posisi istirahat (www.portakalbe.co.id, 2000).
PEAK FLOW METER
Peak Flow Meter (PFM) adalah alat untuk mengukur jumlah aliran udara dalam jalan napas (PFR). Nilai PFR dapat dipengaruhi beberapa faktor misalnya posisi tubuh, usia, kekuatan otot pernapasan, tinggi badan dan jenis kelamin (www.en.wikipedia.com, 2008).Peak Flow Meter adalah alat ukur kecil, dpat digenggam, digunakan untuk memonitor kemampuan untuk menggerakkan udara, dengan menghitung aliran udara bronki dan sekarang digunakan untuk mengetahui adanya obtruksi jalan napas (www.en.wikipedia.com, 2008). Peak Flow Meter (PFM) mengukur jumlah aliran udara dalam jalan napas. Peak Flow Rate (PFR) adalah kecepatan (laju) aliran udara ketika seseorang menarik napas penuh, dan mengeluarkannya secepat mungkin. Agar uji (tes) ini menjadi bermakna, orang yang melakukan uji ini harus mampu mengulangnya dalam kelajuan yang sama, minimal sebanyak tiga kali (www.statcounter.com, 2007). Terdapat beberapa jenis alat PFM. Alat yang sama harus senantiasa digunakan, agar perubahan dalam aliran udara dapat diukur secara tepat. Pengukuran PFR membantu menentukan apakah jalan napas tebuka atau tertutup.
PFR menurun (angka dalam skala turun ke bawah) jika asma pada anak memburuk. PFR meningkat (angka dalam skala naik ke atas) jika penanganan asma tepat, dan jalan napas menjadi terbuka. Pengukuran PFR dapat membantu mengetahui apakah jalan napas menyempit, sehingga penanganan asma dapat dilakukan dini, juga membantu mengenali pemicu (penyebab) asma pada anak, sehingga dapat dihindari (www.statcounter.com, 2007).
Terdapat perbedaan nilai pengukuran (siklus) PFR dalam satu harinya. Dengan mengukur nilai PFR dua kali dalam sehari menunjukkan gambaran PFR sepanjang hari. Anak yang berbeda usia dan ukuran badan memiliki nilai PFR yang berbeda (www.statcounter.com,2007).
2. Ventilasi Paru

Ventilasi dapat terselenggara kalau arus udara ke dan dari alveoli melalui saluran napas, lancar. Arus udara ini kecuali ditentukan oleh isi paru, juga ditentukan tekanan yang menimbulkan aliran, dan tahanan saluran napas (Raw). Tekanan yang menimbulkan aliran ada dua macam, yaitu tekanan oleh kontraksi otot pernapasan (P mus) dan tekanan daya lenting jaringan paru (P el). Kedua tekanan tadi dilawan oleh tahanan saluran napas (www.portkalbe.co.id, 2000). Vetilasi merupakan saluran napas yang dilalui udara sehingga mulai dari udara masuk ke hidung sampai terjadinya pertukaran udara di alveoli. Ventilasi dapat mengalami gangguansecarapatologi:VentilasiObstruktif
Respirasi abnormal ini mempunyai karekteristik yaitu kekuatan kecepatan ekspirasi yang lambat (FEV1/FVC lambat). Ini terjadi pada orang yang asma atatu empisemia, peningkatan voume residu dan residu fungsional kapasitas dan penurunan kapasitas vital adalah hal yang paling mudaj dilihat. Pada seseorang yang mengalami penyakit ini volume parunya sama dengan orang normal. Asma, bronchitis, empisemia adalah penyakit yang disebabkan karena ventilai obstruktif, tapi penyebab sehingga terjadinya obstruktif sama ekai berbeda.
3.Emfisema
Emfisema adalah gangguan pengembangan paru-paru yang ditandai oleh pelebaran ruang udara (alveolus) dalam paru-paru disertai destruksi jaringan
Ada tiga faktor yang memegang peran dalam timbulnya emfisema yaitu :
1. Kelainan radang bronchus dan bronchiolus yang sering disebabkan oleh asap rokok, debu industri. Radang peribronchiolus disertai fibrosis menyebabkan iskhemia dan parut sehingga memperluas dinding bronchiolus.
2. Kelainan atrofik yang meliputi pengurangan jaringan elastik dan gangguan aliran darah; hal ini sering dijumpai pada proses menjadi tua.
3. Obstruksi inkomplit yang menyebabkan gangguan pertukaran udara; hal ini dapat disebabkan oleh perubahan dinding bronchiolus akibat bertambahnya makrophag pada penderita yang banyak merokok. Insiden emfisema meningkat dengan disertai bertambahnya umur (www.portakalbe.co.id, 2000).
Ada dua bentuk emfisema yaitu : 1) Sentrilobular dan 2) Panlobular. Emfisema sentrilobular ditandai oleh kerusakan pada saluran napas bronkhial yaitu pembengkakan, peradangan dan penebalan dinding bronkhioli. Perubahan ini umumnya terdapat pada bagian paru atas. Emfisema jenis ini biasanya bersama-sama dengan penyakit bronkhitis menahun, sehingga fungsi paru hilang perlahan-lahan atau cepat tetapi progresif dan banyak menghasilkan sekret yang kental. Emfisema panlobular berupa pembesaran yang bersifat merusak dari distal alveoli ke terminal bronkhiale. Pembendungan jalan udara secara individual disebabkan oleh hilangnya elastisitas recoil dari paru atau radial traction pada bronkhioli. Ketika menghisap udara (inhale), jalan udara terulur membuka, maka kedua paru yang elastis itu membesar; dan selama menghembuskan udara (ekshalasi)
4.Asma
Asma adalah suatu keadaan di mana saluran nafas mengalami penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang menyebabkan peradangan; penyempitan ini bersifat sementara (http://id.wikipedia.org, 2008).
Pada suatu serangan asma, otot polos dari bronki mengalami kejang dan jaringan yang melapisi saluran udara mengalami pembengkakan karena adanya peradangan dan pelepasan lendir ke dalam saluran udara. Hal ini akan memperkecil diameter dari saluran udara (disebut bronkokonstriksi) dan penyempitan ini menyebabkan penderita harus berusaha sekuat tenaga supaya dapat bernafas (http://id.wikipedia.org, 2008).
Spirometri mungkin dibutuhkan untuk membuat inisial diagnosis dan biasanya membantu mengikuti proses jalannya penyakit-memberi keterangan respon terhadap pemberian pengobatan (Hueston, 2003).
Bronchitis adalah kondisi klinik yang didefenisikan sebagai batuk kronik dengan produksi mucus selama berbulan-bulan samapi menahun. Secret mucus dan inflamasi di bronchi sebagai reaksi menjadi menyempit dan menyebabkan terjadinya ventilasi obstruktif, perubahan ini merupakan reaksi pertahanan dari jalan napas. Bronchitis juga bisa disebabkan karena symptom pulmonary obstruktif (http://oac.med.jhmi.edu,2008)
4.Emfisema
Emfisema adalah gangguan pengembangan paru-paru yang ditandai oleh pelebaran ruang udara (alveolus) dalam paru-paru disertai destruksi jaringan
Ada tiga faktor yang memegang peran dalam timbulnya emfisema yaitu :
1. Kelainan radang bronchus dan bronchiolus yang sering disebabkan oleh asap rokok, debu industri. Radang peribronchiolus disertai fibrosis menyebabkan iskhemia dan parut sehingga memperluas dinding bronchiolus.
2. Kelainan atrofik yang meliputi pengurangan jaringan elastik dan gangguan aliran darah; hal ini sering dijumpai pada proses menjadi tua.
3. Obstruksi inkomplit yang menyebabkan gangguan pertukaran udara; hal ini dapat disebabkan oleh perubahan dinding bronchiolus akibat bertambahnya makrophag pada penderita yang banyak merokok. Insiden emfisema meningkat dengan disertai bertambahnya umur (www.portakalbe.co.id, 2000).
Ada dua bentuk emfisema yaitu : 1) Sentrilobular dan 2) Panlobular. Emfisema sentrilobular ditandai oleh kerusakan pada saluran napas bronkhial yaitu pembengkakan, peradangan dan penebalan dinding bronkhioli. Perubahan ini umumnya terdapat pada bagian paru atas. Emfisema jenis ini biasanya bersama-sama dengan penyakit bronkhitis menahun, sehingga fungsi paru hilang perlahan-lahan atau cepat tetapi progresif dan banyak menghasilkan sekret yang kental. Emfisema panlobular berupa pembesaran yang bersifat merusak dari distal alveoli ke terminal bronkhiale. Pembendungan jalan udara secara individual disebabkan oleh hilangnya elastisitas recoil dari paru atau radial traction pada bronkhioli. Ketika menghisap udara (inhale), jalan udara terulur membuka, maka kedua paru yang elastis itu membesar; dan selama menghembuskan udara (ekshalasi) jalan udara menyempit karena turunnya daya penguluran dari kedua paru itu (www.portakalbe.co.id,2000).

5. Ventilasirestriktif

Penyakit restriktif ditandai dengan kondisi lebih nyata oleh reduksi pada kapasitas total paru. Ventilasi restriktif mungkin disebabkan kerusakan pulmonary, fibrosi pulmo (kaku abnormal, non komplikasi paru), atau karena nonpulmo deficit, mencakup kelemahan otot pernapasan, kelumpuhan, dan kelainan bentuk atau kekakuan dari dinding dada (http://oac.med.jhmi.edu, 2008).
Pada tes pulmonari, individu yang mengalami ventilasi restriktif memiliki penurunankapasitas total paru, penurunan residu fungsional, dan penurunan residu pulmonal. Ketika kekuatan kapasitas vital (FVC) mungkin sangat turun, kekuatan volume ekspirasinya pada waktu satu detik dibagi dengan kekuatan kapasitas vital (FEV1/FVC) biasanya normal atau meningkat dari normal yang seharusnya mengalami penurunan karena tekanan keelastisan paru menurun (http://oac.med.jhmi.edu, 2008). Karena tekanan pleura drop memaksa paru menjadii nflamasi, kedalaman pernapasan pada orang yang mengalami restriktif berbda dibandingkan pada orang yang normal, dan meraka mengakhiri pernapasan dengan pernapasan dangkal dan cepat (http://oac.med.jhmi.edu, 2008).

BAB III
METEDOLOGI PERCOBAAN
A. Alat
Alat yang dibutuhkan dalam percobaan ini yaitu Mini Wright Peak Flow Meter. Percobaan yang menggunakan spirometri tidak dilakukan kerena keterbatasan alat
B. Cara Kerja
Dalam percobaan ini hanya dilakukan pengukuran Peak Flow Rate (PFR): :
Orang coba diminta memegang Peak Flow Meter dan masukkan pipa tiup ke dalam mulutnya. Setelah inspirasi maksimal, orang coba diminta meniup sekuat-kuatnya sampai maksimal dalm Flowmeter. Bacalah nilai yang dicapai pada flowmeter (liter/menit).

Nama Pencoba : Sitti Fatimah
Kelompok : II
Hasil ; 1. 320 liter/menit
2. 350 liter/menit
3. 370 liter/menit

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat ditarik pada praktikum ini adalah :

Volume dan kapasitas paru dapat diukur dengan menggunakan alat yang disebut spirometer.

Peak Flow Meter (PFM) adalah alat untuk mengukur jumlah aliran udara dalam jalan napas (PFR). Nilai PFR dapat dipengaruhi beberapa faktor misalnya posisi tubuh, usia, kekuatan otot pernapasan, tinggi badan dan jenis kelamin.
Ventilasi patoogis terdiri dari ventilasi obstruktif, ventilasi restriktif, dan ventilasi campuran yaitu gabungan dari ventilasi obstruktif dan ventilasi restriktif.
B. Saran
Sebaiknya alat-alat laboratorium yang digunakan dalam praktikum lebih dilengkapi agar praktikum dapat berjalan dengan lancar.

DAFTAR PUSTAKA

Hueston, William J dan Weiss, Barry. 2003. 20 Commond Problems in Respirtory Disorders. mcGraw-Hill Medical Publishing Devision : San Francisco.

free.vlsm.org. 2008. Alat Pernapasan.
http://ilmupedia.com, diakses pada tanggal 29 Nopember 2008.

Johns Hopkins University. http://oac.med.jhmi.edu, diakses pada tanggal 29 Nopember 2008.

http://www.portakalbe.co.id, diakses pada tanggal 29 Nopember 2008.

http://www.statcounter.com. 2007. Asma 2.
diakses pada tanggal 29 Nopember 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: