semua untuk anda

Anemia

A. Pengertian Anemia

Anemia (dalam bahasa Yunani: Tanpa darah) adalah keadaan dimana jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada dibawah normal.

Sel darah merah mengandung hemoglobin, yang memungkinkan mereka mengangkut oksigen dari paru-paru dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh.

Anemia menyebabkan berkurangnya jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin dalam sel darah merah, sehingga darah tidak dapat mengangkut oksigen dalam jumlah sesuai yang diperlukan tubuh

Atau, dapat dikatakan pula Anemia adalah penyakit kurang darah, yang ditandai dengan kadar hemoglobin (Hb) dan sel darah merah (eritrosit) lebih rendah dibandingkan normal. Jika kadar hemoglobin kurang dari 14 g/dl dan eritrosit kurang dari 41% pada pria, maka pria tersebut dikatakan anemia. Demikian pula pada wanita, wanita yang memiliki kadar hemoglobin kurang dari 12 g/dl dan eritrosit kurang dari 37%, maka wanita itu dikatakan anemia.

Anemia umumnya disebabkan oleh perdarahan kronik. Gizi yang buruk atau gangguan penyerapan nutrisi oleh usus juga dapat menyebabkan seseorang mengalami kekurangan darah. Demikian juga pada wanita hamil atau menyusui, jika asupan zat besi berkurang, besar kemungkinan akan terjadi anemia. Perdarahan di saluran pencernaan, kebocoran pada saringan darah di ginjal, menstruasi yang berlebihan, serta para pendonor darah yang tidak diimbangi dengan gizi yang baik dapat memiliki risiko anemia.

Perdarahan akut juga dapat menyebabkan kekurangan darah. Pada saat terjadi perdarahan yang hebat, mungkin gejala anemia belum tampak. Transfusi darah merupakan tindakan penanganan utama jika terjadi perdarahan akut. Perdarahan tersebut biasanya tidak kita sadari. Pengeluaran darah biasanya berlangsung sedikit demi sedikit dan dalam waktu yang lama.

Mineral besi, vitamin B12, dan asam folat merupakan nutrisi yang penting dalam pembentukan sel darah. Kekurangan ketiga unsur tersebut dapat menyebabkan anemia. Anemia karena defisiensi zat besi ditandai dengan adanya perubahan pada kulit. Kulit tampak pucat dan kusam. Selain itu, terjadi kerusakan kelenjar secara terus menerus, seperti lidah menjadi halus, bibir dan sudut-sudut mulut tampak pecah-pecah dan berwarna kemerahan.

Zat besi (Fe) merupakan mineral yang sangat penting bagi tubuh, meskipun dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit (trace mineral). Hemoglobin, yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh, mengandung 60-70% zat besi. Kekurangan zat besi menunjukkan bahwa tubuh kita kekurangan hemoglobin dan oksigen. Zat besi dapat diperoleh dari sayuran hijau dan daging, tetapi zat besi yang terkandung dalam sayuran lebih sulit diserap dibandingkan dengan zat besi dalam daging. Namun, itu bukan berarti kita harus banyak mengonsumsi daging untuk mencukupi kebutuhan zat besi, kecuali dalam keadaan defisiensi unsur besi. Setiap hari tubuh kita membutuhkan sekitar 20 mg zat besi dari makanan. Namun dari sejumlah itu hanya sekitar 2 mg saja yang diserap oleh tubuh, dan sisanya akan dibuang bersama dengan tinja. Zat besi dalam tubuh kita berkisar 2-4 g, atau sekitar 50 mg dalam setiap kilogram berat badan pada pria dewasa. Sedangkan pada wanita hanya 35 mg dalam setiap kilogram berat badan. Umumnya defisiensi zat besi disertai dengan defisiensi asam folat.

Kebutuhan tubuh terhadap vitamin B12 sama pentingnya dengan mineral besi. Vitamin B12 bersama besi akan berfungsi sebagai bahan pembentuk sel darah merah. Bahkan kekurangan vitamin B12 tidak hanya memicu anemia, melainkan dapat mengganggu sistem saraf.

Gizi makanan sangat berkaitan dengan penyakit kurang darah. Konsumsi bahan makanan yang miskin akan asam folat, besi, dan vitamin B12 cenderung menyebabkan seseorang menjadi kurang darah (anemia). Asam folat dapat diperoleh dari daging, sayuran hijau, dan susu. Asam folat termasuk nutrisi yang sangat mudah diserap oleh usus dan berlangsung di sepanjang saluran pencernaan. Tetapi, mengapa masih banyak ditemukan kasus anemia karena kekurangan asam folat. Masalahnya adalah pada kadar gizi dalam makanan yang dikonsumsi. Gizi yang buruk atau malnutrisi merupakan penyebab utamanya.

B. Pengertian Anemia Gravidarum

Anemia sering dijumpai pada kehamilan karena pada masa hamil keperluan akan zat-zat bertambah dan terjadi pula perubahan-perubahan dalam darah dan sumsum tulang. Bertambahnya sel-sel darah kurang dibandingkan dengan pertambahan plasma sehingga terjadi pengenceran darah. Pengenceran darah dianggap sebagai penyesuaian diri secara fisiologis dalam kehamilan dan bermanfaat bagi wanita. Pengenceran tsb meringankan kerja jantung yang harus bekerja lebih keras pada masa hamil, resistensi periver berkurang sehinnga tekanan darah tidak naik. Dan pada perdarahan persalinan zat besi yang hilang lebih sedikit jika dibandingkan darah itu tetap kental. Pertambahan ini sudah mulai pada kehamilan 10 minggu dan puncaknya pada 32-36 minggu.

Anemia pada wanita tidak hamil didefinisikan sebagai konsentrasi hemoglobin yang kurang dari 12 g/dl dan kurang dari 10 g/dl selama kehamilan atau masa nifas. Konsentrasi hemoglobin lebih rendah pada pertengahan kehamilan, pada awal kehamilan dan kembali menjelang aterm, kadar hemoglobin pada  sebagian besar wanita sehat yang memiliki cadangan besi adalah 11g/dl atau lebih. Atas alasan tersebut, Centers for disease control (1990) mendefinisikan anemia sebagai kadar hemoglobin kurang dari 11 g/dl pada trimester pertama dan ketiga, dan kurang dari 10,5 g/dl pada trimester kedua.

Pembentukan Hemoglobin

Pembentuk sitoplasma sel dan hemoglobin (Hb) terjadi bersamaan dengan proses pembentukan DNA dalam inti sel. Hb merupakan unsur terpenting dalam plasma eritrosit. Molekul Hb terdiri dari 1.globin, 2. protoporfirin dan 3. besi (Fe).
Globin dibentuk sekitar ribosom sedangkan protoporfirin dibentuk sekitar mitokondria. Besi didapat dari transferin. Pala permulaan sel eritrosit berinti terdapat reseptor transferin. Gangguan dalam pengikatan besi untuk membentuk Hb akan mengakibatkan terbentuknya eritrosit dengan sitoplasma yang kecil (mikrositer) dan kurang mengandung Hb di dalamnya (hipokrom).
Tidak berhasilnya sitoplasma sel eritrosit berinti mengikat Fe untuk pembentukan Hb dapat disebabkan oleh:

  1. rendahnya kadar Fe dalam darah.

Hal ini dapat disebabkan oleh 1. Kurang gizi, 2.gangguan absorbsi Fe (terutama dalam lambung), 3. Kebutuhan besi yang meningkat akan besi (kehamilan, perdarahan dan sebagainya).
b. rendahnya kadar transferin dalam darah. Hal ini dapat dimengerti karena sel eritrosit berinti maupun retikulosit hanya memiliki reseptor transferin bukan reseptor Fe. Perlu kiranya diketahui bahwa yang dapat terikat dengan transferin hanya Fe elemental dan untuk membentuk 1 ml packed red cells diperlukan 1 mg Fe elemental.

Gangguan produksi globin hanya terjadi karena kelainan gen (Thalassemia, penyakit HbF, penyakit Hb C, D, E, dan sebagainya). Bila semua unsur yang diperlukan untuk memproduksi eritrosit (eritropoetin, B , asam folat, Fe) terdapat dalam jumlah cukup, maka proses pembentukan eritrosit dari pronormoblas s/d normoblas polikromatofil memerlukan waktu 2-4 hari.

Selanjutnya proses perubahan retikulosit menjadi eritrosit memakan waktu 2-3 hari; dengan demikian seluruh proses pembentukan eritrosit dari pronormoblas dalam keadaan “normal” memerlukan waktu 5 s/d 9 hari. Bila diberikan obat anti anemik yang cukup pada penderita anemia defisiensi maka dalam waktu 3-6 hari kita telah dapat melihat adanya kenaikan kadar retikulosit; kenaikan kadar retikulosit biasanya dipakai sebagai patokan untuk melihat adanya respon pada terapi anemi. Perlu kiranya diketahui bahwa diperlukan beberapa jenis ensim dalam kadar yang cukup agar eritrosit dapat bertahan dalam bentuk aktif selama 120 hari. Kekurangan ensim-ensim ini akan menyebabkan eritrosit tidak dapat bertahan cukup lama dan menyebabkan umur eritrosit tadi kurang dari 120 hari.

Ada dua ensim yang berperan penting yaitu

  • Piruvat kinase,
  • Glukose 6-fosfat dehidrokinase (G6PD). Anemia karena defisiensi ensim piruvat kinase hanya dapat diobati dengan transfusi eritrosit.

Penurunan sedang kadar hemoglobin yang dijumpai selama kehamilan pada wanita sehat yang tidak mengalami defisiensi besi atau folat disebabkan oleh penambah volume plasma yang relatif lebih besar daripada penambahan massa hemoglobin dan volume sel darah merah. Ketidakseimbangan antara kecepatan penambahan plasma dan penambahan eritrosit ke dalam sirkulasi ibu biasanya memuncak pada trimester kedua. Istilah anemia fisiologis yang telah lama digunakan untuk menerangkan proses ini kurang tepat dan seyogyanya ditinggalkan. Pada kehamilan tahap selanjutnya, ekspansi plasma pada dasarnya berhenti sementara massa hemoglobin terus meningkat.

Selama masa nifas, tanpa adanya kehilangan darah berlebihan, konsentrasi hemoglobin tidak banyak berbeda dibanding konsentrasi sebelum melahirkan. Setelah melahirkan, kadar hemoglobin biasanya berfluktuasi sedang disekitar kadar pra persalinan selama beberapa hari dan kemudian meningkat ke kadar yang lebih tinggi daripada kadar tidak hamil. Kecepatan dan besarnya peningkatan pada awal masa nifas ditentukan oleh jumlah hemoglobin yang bertambah selama kehamilan dan jumlah darah yang hilang saat pelahiran serta dimodifikasi oleh penurunan volume plasma selama masa nifas.

Walaupun sedikit lebih sering dijumpai pada wanita hamil dari kalangan kurang mampu, anemia tidak terbatas hanya pada mereka. Frekuensi anemia selama kehamilan sangat bervariasi, terutama bergantung pada apakah selama hamil wanita yang bersangkutan mendapat suplemen besi.

Anemia pada kehamilan merupakan masalah Nasional bahkan Internasional. Ibu yang anemis tidak dapat mentoleransi terjadinya kehilangan darah seperti wanita yang sehat serta membawa pengaruh yang kurang baik bagi ibu maupun janinnya. Frekuensi anemia ibu hamil di Indonesia cukup tinggi yaitu 63,5 %.

Dari hasil pengolahan data menggunakan ratio prevalensi, didapatkan hasil  bahwa ibu hamil dengan anemia gravidarum mempunyai risiko untuk melahirkan bayi berat lahir rendah 2,15 kali lebih besar dari pada ibu hamil tidak dengan anemia gravidarum.

C.  Gejala Anemia Gravidarum

Gejala-gejala umum dari anemia sendiri adalah disebabkan oleh pasokan oksigen yang tidak mencukupi kebutuhan ini, bervariasi. Anemia bisa menyebabkan kelelahan, kelemahan, kurang tenaga dan kepala terasa melayang. Jika anemia bertambah berat, bisa menyebabkan stroke atau serangan jantung.

Etiologi anemia merupakan hal penting dalam mengevaluasi efek anemia pada hasil kehamilan. Adapun etiologi dari anemia tersebut :

Etiologi Anemia:

Anemia Didapat :

  1. Anemia Defisiensi besi
  2. Anemia disebabkan Kehilangan darah akut
  3. Anemia Peradangan atau keganasan
  4. Anemia Megaloblastik
  5. Anemia Hemolisis Didapat
  6. Anemia Aplastik/ Hipoplastik

Anemia Herediter :

1. Talasemia

2. Hemoglobinopati sel sabit

3. Hemoglobinopati lainnya

4. Anemia hemolitik herediter

Sebagai contoh, pada wanita dengan anemia sel sabit, hasil akhir pada ibu dan perinatal sangat berubah. Saat ini, belum ada bukti yang menyatakan bahwa efek samping berkaitan dengan anemia itu sendiri, tetapi lebih berhubungan dengan penyulit vascular akibat pembentukan sel sabit (sickling). Menurut Bennet dkk. (1998), berdasarkan National Hospital Dischange Data tahun 1991 – 1992, anemia sendiri jarang menjadi penyebab rawat inap terkait kehamilan. Klebanoff dkk.(1991) meneliti hampir 27.000 wanita dan menemukan peningkatan ringan resiko kelahiran preterm pada anemia midtrimester. Lieberman dkk.(1987) mendapatkan keterkaitan positif antara hematokrit yang rendah dan kelahiran preterm pada wanita berkulit hitam, dan menyarankan bahwa anemia merupakan penanda difisiensi gizi. Anemia mungkin menyebabkan hambatan pertumbuhan janin. Menurut Barker dkk(1990), anemia dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular. Kadyrov dkk (1998) mengajukan bukti bahwa anemia ibu mempengaruhi vaskularisasi plasenta dengan mengubah angiogenesis pada awal kehamilan.

Menurut World Health Organization, anemia diperkirakan ikut berperan pada hampir 40% kematian ibu hamil. Di Negara-negara dunia ketiga (Viteri, 1994). Ironisnya, pada wanita yang sebenarnya sehat. Konsentrasi hemoglobin yang lebih tinggi cenderung menyebabkan gangguan hasil kehamilan. Pada kasus-kasus ini, ekspensi normal volume darah selama kehamilan tampaknya terganggu. Murphy dkk(1986) melaporkan temuan dari Cardiff Birth Survey terhadap lebih dari 54.000 kehamilan tunggal. Mereka menemukan peningkatan angka kematian perinatal pada konsentrasi hemoglobin yang tinggi. Secara spesifik, wanita yang konsentrasi hemoglobinnya lebih dari 13,2 g/dl pada gestasi 13 sampai 18 minggu memperlihatkan peningkatan angka kematian perinatal, bayi dengan berat lahir rendah, dan pelahiran premature, preeklamasia pada nulipara. Scanloon dkk.(2000) mempelajari hubungan antara hemoglobin Ibu dan bayi preterm atau dengan hambatan pertumbuhan pada173.031 kehamilan. Hemoglobin yang rendah (< 3 SD) pada gestasi 12 minggu yang menyebabkan resiko 1,7 kali lipat untuk kelahiran preterm, sedangkan hemoglobin yang tinggi (> 3 SD) pada gestasi 12 sampai 18 minggu memperlihatkan peningkatan 1,3 sampai 1,8 kali lipat untuk hambatan pertumbuhan janin.

Anemia dalam kehamilan memberi pengaruh yang kurang baik bagi ibu pada kehamilan, persalinan, nifas dan masa selanjutnya. Berbagai penyulit yang dapat timbul akibat anemia, seperti : (2)

  • Abortus
  • Partus prematurus
  • Partus lama karena inersia uteri
  • Perdarahan postpartum karena atonia uteri
  • Syok
  • Infeksi intra/post partum
  • Dekompensasi kordis pada anemia sangat berat.

Gambaran Klinik Anemia Gravidarum :

Keluhan lemah, pucat, mudah pingsan sementara tekanan darah masih dalam batas normal, perlu dicurigai anemia defisiensi. Sementara gejala lainnya tergantung dari jenis anemianya.

Gejala anemia pada kehamilan pada umumnya yaitu ibu mengeluh cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, malaise, lidah luka, nafsu makan turun (anoreksia), konsentrasi hilang, nafas pendek (pada anemia parah) dan keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil muda.

Gejala umum, disebut juga sebagai sindrom (kumpulan gejala) anemia timbul karena iskemia (kekurangan aliran darah) organ target serta akibat mekanisme kompensasi tubuh terhadap penurunan kadar hemoglobin. Gejala ini muncul pada setiap kasus anemia setelah penurunan hemoglobin sampai kadar tertentu (Hb < 7g%). Sindrom anemia terdiri dari rasa lemah, lesu, cepat lelah, telinga mendenging, mata berkunang-kunang, kaki terasa dingin, sesak napas dan dispepsia (gangguan pencernakan). Pada pemeriksaan, pasien tampak pucat yang mudah dilihat pada konjungtiva (bagian dalam kelopak mata), mukosa (selaput bagian dalam) mulut, telapak tangan dan jaringan di bawah kuku.

Gejala penyakit dasar adalah gejala yang timbul akibat penyakit dasar yang menyebabkan anemia sangat bervariasi, tergantung dari penyebab tersebut.
Meskipun tidak spesifik, anamnesis (tanya jawab) dan pemeriksaan fisik sangat penting pada kasus anemia. Tetapi pada umumnya diagnosis memerlukan pemeriksaan laboratorium.

D. Penyebab Anemia Gravidarum

Penyebab anemia pada umumnya adalah sebagai berikut:

  1. Kurang gizi (malnutrisi)
  2. Kurang zat besi dalam diit
  3. Malabsorpsi
  4. Kehilangan darah banyak seperti persalinan yang lalu, haid dan lain-lain
  5. Penyakit-penyakit kronik seperti TBC paru, cacing usus, malaria dan lain-lain

Secara mendatailnya :

    • Kerusakan mekanik pada sel darah merah
    • Reaksi autoimun terhadap sel darah merah:

Dari klasifikasi etiomologi anemia pada pembahasan gejala diatas, 2 penyebab umum anemia pada masa kehamilan dan nifas adalah Anemia Defisiensi Fe dan Anemia Kehilangan Darah Akut.

Di Indonesia, anemia pada kehamilan yang terbanyak ditemukan adalah: (2)

  1. Anemia Defisiensi Besi
  2. Anemia Megaloblastik
  3. Anemia Hipoplastik
  4. Anemia Hemolitik

Anemia juga bisa terjadi akibat kekurangan asam folat (sejenis vitamin b yang diperlukan untuk pembuatan sel darah merah). Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan darah yang menentukan jumlah sel darah merah, kadar hemoglobin dan kadar zat besi dalam darah. Anemia karena kekurangan zat besi diobati dengan tablet besi. Pemberian tablet besi tidak berbahaya bagi janin tetapi biasa menyebabkan gangguan lambung dan sembelit pada ibu, terutama jika dosisnya tingggi.

E. Pencegahan Anemia Gravidarum

Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan pemberian suplemen Fe dosis rendah 30 mg pada trimester ketiga ibu hamil non anemik (Hb lebih/=11g/dl), sedangkan untuk ibu hamil dengan anemia defisiensi besi dapat diberikan suplemen Fe sulfat 325 mg  60-65 mg, 1-2 kali sehari. Untuk yang disebabkan oleh defisiensi asam folat dapat diberikan asam folat 1 mg/hari atau untuk dosis pencegahan dapat diberikan 0,4 mg/hari. Dan bisa juga diberi vitamin B12 100-200 mcg/hari.

Pencegahan yang dilakukan pada anak dapat meningkatkan kapasitas manusia dan produktivitasnya sepanjang siklus kehidupan, sedangkan pencegahan anemia pada perempuan usia reproduksi dapat menurunkan angka kematian ibu dan bayi.

Selain melalui pengobatan, pencegahan anemia dapat dilakukan dengan diet sehat dan tepat, antara lain dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi, menjaga kebersihan lingkungan dan pribadin dan kontrol penyakit infeksi. Kandungan zat besi dapat diperoleh dari makanan berupa daging atau bukan daging.

Makanan tersebut hendaknya dimasak tidak terlalu lama, agar kandungan besi di dalam makanan tidak berkurang. Konsumsi makanan yang mengandung kalsium seperti susu dan hasil olahannya, makanan mengandung sereal, kacang-kacangan, biji-bijian dan tepung serta minum teh, kopi atau coklat dapat menghambat penyerapan besi. Asupan zat besi yang dikonsumsi dapat dijaga agar terserap tubuh sebanyak mungkin dengan mengkombinasikan dengan minum orange juice setelah makan.

Kepandaian dalam mengatur pola makan dengan mengkombinasikan zat besi dalam menu makanan serta mengkonsumsi buah dan sayur yang mengandung vitamin C pada waktu makan bias membuat tubuh terhindar dari anemia.

Diagnosis :

Pemeriksaan darah sederhana bisa menentukan adanya anemia. Persentase sel darah merah dalam volume darah total (hematokrit) dan jumlah hemoglobin dalam suatu contoh darah bisa ditentukan. Pemeriksaan tersebut merupakan bagian dari hitung jenis darah komplit (CBC).

  • Pemeriksaan Hb dan Gambaran Darah Tepi akan memberikan kesan pertama.
  • Pemeriksaan Hb dengan Spektrofotometri merupakan standar.
  • Karena di Indonesia masih relatif banyak ditemukan peyakit TB dan malaria sehingga pemeriksaan khusus : darah tepi dan sputum perlu dilakukan.
  • Diperlukan pemeriksaan khusus untuk membedakan dengan defisiensi asam folat dan thalassemia.

Wanita hamil dianjurkan untuk minum tablet besi meskipun jumlah sel darah merah dan kadar hemoglobinnya normal, agar yakin bahwa mereka memiliki zat besi yang cukup untuk janin dan dirinya sendiri. Anemia karena kekurangan asam folat diobati dengan tablet folat. untuk wanita hamil yang menderita anemia sel sabit, pengobatannya masih bersifat kontroversial, kadang perlu dilakukan transfusi darah.

F. Pengobatan Anemia Gravidarum

Jika ibu hamil mengalami anemia zat besi, umumnya akan diberi suplemen zat besi. Akan tetapi suplemen zat besi tersebut hanya dapat mengatasi anemia karena kekurangan zat besi. Anemia yang disebabkan oleh sebab lain tentu memerlukan pengobatan yang berbeda. Agar zat besi dapat diserap dengan baik  direkomendasikan agar suplemen zat besi tersebut diminum dalam keadaan perut kosong dan dengan sumber vitamin C, seperti jus jeruk. Hindari meminum suplemen zat besi dengan kalsium karena dapat menghambat penyerapan zat besi.

Iritasi pada saluran cerna merupakan efek samping tersering dari suplemen zat besi. Banyak perempuan mengalami sembelit (kostipasi) ketika mengkonsumsi suplemen zat besi tersebut, kadang juga diare adan mual. Jika mual mengganggu, suplemen zat besi sebaiknya diminum saat malam hari menjelang tidur. Efek suplemen zat besi lainnya adalah tinja yang hitam, jadi jangan kawatir jika tinja menjadi hitam ketika kita mengkonsumsi suplemen tersebut.

Bagaimana mendapatkan zat besi yang cukup?

Banyak sumber makanan yang kaya akan zat besi. Daging merah, ikan merupakan sumber yang baik. Bagi mereka yang memilih untuk mendapatkan zat besi dari sumber non daging, dapat mengkonsumsi tahu, telur, sayuran hijau, brokoli, roti gandum, sereal yang diperkaya dengan zat besi, juga buah kering seperti kurma, aprikot, raisin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: